Untuk Penanganan Penyakit Zoonosis Yang Sedang Merajalela Saat Ini, Indonesia Tawarkan Kerja Sama Dengan Kampus Jepang

Kedutaan besar Indonesia, Kementerian Pertanian dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Tokyo, mengajukan kerjasama dengan Hokkaido University di Jepang buat meningkatkan dan mengembangkan pemahaman mengenai penanganan penyakit Zoonosis di Indonesia yang sedang merajalela. 

“Disini kami mengajukan kerjasama penanganan penyakit Zoonosis di Indonesia, mengingat potensi bahayanya penyakit Zoonosis yang bisa menjadikan pandemi di masa mendatang. Serta berkembangnya riset dalam bidang penanganan penyakit Zoonosis di Hokkaido University sangat luar biasa, dan patut dijadikan acuan untuk negara Indonesia” ucap John Tjahjanto Boestami yang merupakan Wakil Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo.

Penyakit Zoonosis sendiri sangat berbahaya, karena penyakit yang bisa ditularkan oleh hewan kepada manusia. Dimana patogen yang menularkan bisa berwujud: Jamur, Bakteri, Parasit dan Virus.

Disini Boestami mendatangi Hokkaido University yang merupakan bagian dari Hari Persahabatan Jepang dan Indonesia di Kota Hokkaido, dalam acara memperingati 65 tahun hubungan kerja sama Jepang dan Indonesia. “Saya sangat berharap dengan kerjasama ini bisa mengembangkan sistem deteksi dan pemantauan dini yang akurat. Serta untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Indonesia dalam aspek kebugaran atau kesehatan” jelas Boestami.

Beberapa kedutaan Indonesia yang ikut serta dalam acara ini diantaranya: Yusli Wardianto yang merupakan duta Kebudayaan dan Pendidikan, Muhammad Muharram Hidayat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan duta Pertanian, dan Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti Kepala Pusat Pendidikan Pertanian dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber daya Manusia.

Tentunya mereka mendapatkan sambutan yang hangat oleh Ayato Takada yang merupakan Direktur International Institute For Zoonosis Control. Michihito Sasaki Kepala Divisi Patologi Molekuler, dan Hirofumi Sawa Hokkaido University Institute for Vaccine Research and Development (Lembaga Peneliti dan Perkembangan Vaksin).

READ  Sepuluh Pengedar 43 Kg Ganja Dan 270,8 Gram Sabu Terancam Hukuman Mati Usai Ditangkap Oleh Polisi

Hirofumi Sawa menjelaskan hasil riset fakultas Kedokteran Hewan dalam IPB (Institut Pertanian Bogor) mengenai beberapa jenis virus yang ditemukan pada beberapa hewan di Indonesia seperti: Anjing, Kelelawar, Kucing dan masih banyak lainnya. Tidak hanya itu, Boestomi dan rombongannya bisa mendapatkan peluang untuk melihat fasilitas yang ada pada laboratorium BSL-2 (Biosafety Level 2) dan BSL-3 (Biosafety Level 3) dalam Hokkaido University.

Biosafety Level-2 (BSL-2) dan Biosafety Level-3 (BSL-3) merupakan standar keamanan dalam Laboratorium yang mengarahkan pada tindakan pencegahan dan tingkat resiko yang sangat berguna untuk menangani bahan biologi yang berpotensi berbahaya. Kunjungan delegasi Kedutaan Besar Republik Indonesia Tokyo ke Hokkaido University itu mempunyai harapan bisa meningkatkan kerjasama Indonesia dan Jepang dalam memperkuat sumber daya manusia di aspek kebugaran dan penanganan penyakit Zoonosis. 

Penyakit Zoonosis memang terlihat ringan, namun bisa menyebabkan kematian dan hanya 30% penderita penyakit ini yang bisa selamat. Maka dari itu, pemerintah Indonesia menjelaskan kepada masyarakat Indonesia yang mempunyai hewan peliharaan wajib diperiksa ke dokter hewan terlebih dulu untuk melihat apakah hewan tersebut sehat atau tidak. Hal tersebut bisa menjauhkan masyarakat dari penyakit Zoonosis yang berbahaya ini.

Tidak hanya itu, Direktur Jenderal Kesehatan dan Peternakan Hewan meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap penyakit Zoonosis. Karena tingkat Keganasan penyakit Zoonosis ini sangat beragam, dari yang bisa serta yang mengakibatkan kematian. Berikut beberapa jenis penyakit Zoonosis yang cukup berbahaya diantaranya: Cysticercosis, Avian Influenza, Toksoplasmosis, Rabies, Paratuberculosis, Anthrax, Trichinellosis, Brucellosis, Campylobacteriosis, Leptospirosis, Q Fever, Japanese B, Schistosomiasis, Encephalitis, dan Bovine Tuberculosis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *